Ada diskusi menarik di milis Telcomedia yang saya ikuti. Ini berkaitan dengan penetrasi WIMAX ke Indonesia. Saya sendiri sudah pernah membahas WIMAX di blog saya pada awal tahun ini.
WIMAX sedianya memang dijadwalkan pada tahun 2008 ini untuk mulai diimplementasikan di Indonesia. Namun mengapa tender WIMAX belum juga dibuka? Apakah menunggu kesiapan dari industri dalam negeri atau sikap skeptis terhadap teknologi WIMAX itu sendiri? Apa sebenarnya tujuan diterapkannya WIMAX?
Pihak yang paling bertanggung jawab dalam membuka pangsa WIMAX di Indonesia adalah pemegang kebijakan ITC, yaitu: Postel dan Depkominfo. Sementara itu saat ini kita masih jor-joran pembangunan industri seluler termasuk 3G. Menurut data, sekitar puluhan trilyun anggaran pemerintah untuk industri seluler, sedang industri manufaktur hanya kebagian 3% saja.
Di saat yang sama, sebagian investor WIMAX mulai meluncurkan ambisinya untuk menguasai dunia dengan teknologi WIMAX. Investor-investor kelas kakap yang diusung oleh perusahaan-perusahaan besar akan menjadi ikan besar di antara ikan-ikan kecil di “kolam” WIMAX (Tengoklah ambisi Intel untuk memasukkan chip WIMAX ke dalam notebooknya). Ini akan membuat industriliasisasi WIMAX pada akhirnya akan membuat perusahaan-perusahaan asing menjadi semakin kaya dan perusahaan-perusahaan berkembang menjadi susah bernafas.
Kembali ke teknologi WIMAX itu sendiri..
Tentu kita masih ingat WiFi yang di awal tahun 2000 menjadi booming.
Pada permulaan teknologi ini diluncurkan, banyak perusahaan yang meraup keuntungan dari WiFi. Namun ketika banyak perusahaan kecil juga mengusung WiFi, pada akhirnya WiFi menjadi semakin turun nilainya.
Itu juga menjadi ketakutan pemerintah untuk mengembangkan WIMAX, akankah WIMAX bernasib seperti WiFi.
Oke, kita ambil sisi optimisnya. Ambil kasus China..
China adalah negara yang mampu membuat hampir semua teknologi lalu menjualnya dengan harga murah. Mereka tidak takut dengan perusahaan-perusahaan besar yang sudah mendominasi dan tidak merasa susah dengan gap teknologi yang ada. Kuncinya adalah industrialisasi untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (untuk menampung jumlah tenaga kerja China yang membludak). Perlu diingat, China banyak melakukan plagiatisme teknologi namun kaya implementasi. Dengan prinsip ini mereka menjadi negara industri kuat yang mampu berkompetisi dengan negara-negara lain.
Lalu bagaimana dengan Indonesia dalam menanggapi WIMAX ini?
Jika kita menggunakan WIMAX produk asing maka produk lokal akan kalah. Kesempatan kita hanya akan menjadi konsumen dan pedagang. Namun seandainya kita buat WIMAX dengan standar Indonesia, maka pemain-pemain lokallah yang akan berkiprah. Kita bisa menjadi inovator, konsumen, dan pedagang. Ini artinya WIMAX akan menjadi kepentingan yang berpihak pada negeri ini.
Mampukah? Siapkah kita?
Well, I have a dream.. Bagaimanapun nasionalisme itu tetaplah diperlukan untuk membuat kita tegak berdiri.